Semarang (MediaBnR.Com) – Penghobi/pengemar perkutut klangenan atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘perkutut rumahan’ sebenarnya sangat banyak. Hanya saja diantara mereka sebagian besar menikmati ‘angunggan’ perkutut klangenanya cukup dirumah sambil santai ngopi dan merokok.

Jika dibandingkan dengan komunitas penghobi lomba seni suara burung ini, pada dasarnya komunitas pengemar perkutut klangenan sendiri jauh lebih banyak, hanya saja karena tidak adanya wadah untuk mereka berkumpul, akhirnya mereka terkesan individual dan ini beda dengan penghobi perkutut lomba suara yang punya organisasi jelas bernama Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI).

Ketiadaan wadah yang resmi menjadikan penghobi perkutut klangenan berjalan dengan inisiatif sendiri-sendiri, termasuk dengan gelaran festival perkutut klangenan yang diadakan pada Minggu (31/8/2014) kemarin juga atas inisiatif pribadi. Meski atas inisiatif pribadi, namun gelaran ini mendapat dukungan seluruh komponen pecinta perkutut terutama di media sosial seperti facebook.

Masabi Utama (Kanan)  bersama Panitia_

Mendapat dukungan dan respon positif dari kalangan penghobi perkutut klangenan, Masabi Utama selaku penggagas hajatan ini makin semangat dan antusias. Gelaran festivalnya sendiri diadakan di lapangan Perkutut & Derkuku l di Ketileng, Semarang Timur, agenda lombanya sendiri dibuka dua kelas. Yang pertama Kelas Adu Gacor Perkutut Lokal, yang kedua dibuka Kelas Adu Gacor Campuran. Dengan iming-iming penghargaan berupa trophy, piagam, dan uang silaturahmi sebesar Rp 500 ribu menjadikan even perdana ini didatangi banyak peserta.

juara kelas gacor lokal_

Kelas Adu Gacor Perkutut Lokal menyuguhkan pertandingan menarik ‘Adu Gacor’ terjadi antara dua burung bernama Bedjo dan Cleopatra, mereka saling susul perolehan suara terjadi, hingga mendekati waktu berakhir. dan keanehan terjadi manakala panitia menuip peluit tanda berakhirnya perlombaan kedua burung itu sama-sama berbunyi sebanyak 102 kali. Karena terjadi jumlah yang sama, maka panitia memberikan injuri time 2 menit, untuk menentukan pemenangnya. Dan saat waktu menegangkan ini ternyata Bedjo milik kakek Suwandi (70) lebih beruntung, karena mau bunyi dan menambah koleksi bunyinya menjadi 112 selama 47 menit perlombaan berlangsung.

Baca Juga  Beda Kualitas Satria Muda Perkasa di Golden Voice Cup I, Cahaya Agung Gagal Hatrick

Mendapati burungnya menjadi juara pertama Mbah Wandi begitu ia biasa dipangil, girang bukan kepalang. Ia tidak menyangka datang jauh-jauh dari Demak bakal mendapat piala dan hadiah uang sebesar 500 ribu, “Saya ucapkan banyak terima kasih dengan panitia dan para penghobi perkutut klangenan lainnya, yang sudah sudi menggelar kegiatan ini,” kata Mbah Wandi. Dan ia pun berjanji bakal turut menyosialisasikan kegiatan ini kepada teman-temanya di kampung.

pemenang kelas ekonomi campuran_

Sedangkan di Kelas Ekonomi juga terjadi persaingan ketat antara burung yang bernama Bandot, SPM dan Tahu Pletok. Tahu Pletok milik Liming Tegal ini memimpin hingga 20 menit terakhir, perolehan jumlah bunyinya sempat disalip oleh SPM milik Supomo Semarang, hingga pertandingan sisa 5 menit SPM masih memimpin dan di prediksi bakal meraih juara pertama. Namun sayangnya ketika memasuki menit kedua SPM justru ngadat bunyi. Sebaliknya Bandot bunyi terus hingga peluit pertandingan berakhir ditiup, dengan jumlah bunyi 78 kali Bandot berhak membawa pulang piala ekslusif replika Tugumuda.

Sukses dengan gelaran perdana menurut Masabi Utama, sekali penggagas festival ini ia akan berencana menggelar untuk kedua kalinya. Bahkan ke depan diusahakan festival ini bisa diadakan di daerah lain, “Harapan saya sederhana, mudah-mudahan kegiatan ini bisa makin mengairahkan penghobi perkutut. Bagaimanapun tidak, semua penghobi perkutut adalah orang-orang yang ‘berkantong tebal’ yang sanggup membeli perkutut bagus dengan harga jutaan, dan tadi terbukti begitu banyak penghobi perkutut yang modalnya cekak, jangankan beli perkutut mahal, sangkarnya saja hanya sangup beli yang biasa, tidak ada yang mewah,” jelasnya Masabi.

Ia melanjutkan, “Namun bagaimanapun mereka-mereka ini sama-sama mencintai burung perkutut, jadi sudah selayaknya kita juga fasilitasi mereka untuk berlomba, tentunya dengan kondisi yang seadanya,” lanjut Masabi Utama yang juga motor berdirinya Komunitas Penggemar Perkutut Klangenan. (rds/van)