Bojonegoro (MediaBnR.Com) – Setelah cukup lama BnR Cabang Surabaya terbentuk. Kini atas kemauan kicaumania, BnR Cabang Bojonegoro, Jawa Timur resmi terbentuk, pada Sabtu (27/9/2014). Terdiri dari kalangan orang-orang muda yang juga kicaumania setempat. Liang, Mohan, Acay dan Kevin, di bawah naungan BnR Pusat, resmi ditunjuk sebagai pengelola Yayasan BnR Cabang Bojonegoro. Dian Toto yang turun langsung di Bojonegoro mewakili Bang Boy selaku pendiri Yayasan BnR, menyampaikan ucapan selamat atas terbentuknya BnR Cabang Bojonegoro, Jawa Timur.

Acara malam sarasehan dihadiri tokoh dan kicaumania Bojonegoro (Foto: Stevanus/MediaBnR.com)

Acara malam sarasehan dihadiri tokoh dan kicaumania Bojonegoro (Foto: Stevanus/MediaBnR.com)

Berdasar hasil musyawarah mufakat, anggota inti telah dibentuk. Untuk menempati posisi ketua, Liang dipercaya untuk memegang tongkat komando tersebut. Sedangkan Mohan sebagai wakil ketua dan merangkap koordinator penangkaran, karena dirasa cocok dan memiliki ilmu dalam bidang breeding. Sementara Acay menjadi bendahara dan Kevin sekretaris.

Dipilihnya BnR sebagai yayasan oleh empat orang tersebut bukan tanpa alasan. Menurut mereka, BnR merupakan even organiser yang baik untuk dicontoh dalam sistem penjuriannya. Alhasil, hal ini pun direspon positif oleh Bang Boy. Mereka juga berharap dengan adanya BnR di Bojonegoro dapat memberikan warna pada dunia perburungan di kota tersebut. “Menurut kami sistem penilaian BnR layak untuk dipakai,” kata Mohan.

Dengan terbentuknya BnR Cabang Bojonegoro, seluruh jajaran pengurus berharap BnR Cabang Bojonegoro dapat diterima dengan baik oleh kicaumania. Tanpa memecah tali silaturahmi antara kicaumania yang sudah terjalin dengan baik selama ini. “Di sini kami ingin mengenal sistem penilaian BnR itu seperti apa. Selanjutnya, biar kicaumania sendiri yang menilai, mana yang benar dan mana yang masih perlu dibenahi,” terang Liang selaku ketua.

Baca Juga  Daftar Juara Latber BnR Community Surabaya (13 dan 16 Mei 2015)

Selain dibentuknya pengurus BnR Cabang Bojonegoro. Untuk mengenalkan sistem penilaian BnR pada kicaumania. Telah dibentuk pula panitia pengelola gantangan BnR Cabang Bojonegoro. Panitia tersebut juga merupakan anggota dari pengurus BnR Bojonegoro. Latber perdana diagendakan pada Minggu (28/9/2014) kemarin.

Pengurus BnR cabang Bojonegoro (Foto: Stevanus/MediaBnR.com)

Pengurus BnR cabang Bojonegoro (Foto: Stevanus/MediaBnR.com)

Untuk membekali dan memberikan wawasan mengenai sistem penilaian BnR pada kicaumania. Sabtu (27/9/2014) malam sekitar pukul 19.00 WIB panitia telah mengagendakan sarasehan di lokasi gantangan. Dalam acara tersebut, selain mengundang tokoh dan kicaumania Bojonegoro untuk bersilaturahmi. Pada kesempatan itu pengurus BnR Bojonegoro juga memberikan sosialisasi tentang penilaian di BnR. Dian Toto selaku pengawas juri BnR Pusat dipercaya menjadi pembicara.

Dian Toto saat menjadi pembicara di malam sarasehan (Foto: Stefanus/MediaBnR.com)

Dian Toto saat menjadi pembicara di malam sarasehan (Foto: Stefanus/MediaBnR.com)

Animo kicaumania pun luarbiasa ketika berada di lokasi. Tanya jawab mengenai sistem penilaian BnR berlangsung seru. Tak sedikit mereka yang awalnya awam tentang penjurian BnR menjadi tahu karena adanya penjelasan dari pembicara. Bahkan mereka yang awalnya sedikit pesimis ketika turun di lomba lain, kembali percaya diri setelah melihat sistem penilaian di BnR yang terbilang memanjakan kicaumania. Seperti lovebird nakal dan kacer mbagong masih punya harapan juara ketika turun di gelaran BnR. Karena irama, lagu menjadi hal utama di penilaian BnR.

Selain itu mereka akhirnya tahu bahwa burung bisa dikatakan layak juara, apabila kerja bagus dari awal, tengah, hingga akhir. “Itu yang dinamakan sistem penilaian mengerucut. Bagaimana bisa juara kalau dari salah satu itu tidak kerja,” terangnya saat memberikan pengetahuan mengenai penilian lomba.

Terbukti, setelah mendapatkan pencerahan di acara sarasehan tersebut, keesokan harinya. Latber perdana BnR cabang Bojonegoro sukses terselenggara tanpa protes. Bahkan panitia dibuat kagum karena gelaran tersebut tanpa teriak dan mampu menyedot 615 peserta. (Stefanus)