AKSI DAMAI FKMI

Aksi Damai FKMI

Mediabnr – Aksi damai di BKSDA Bandung Jl. Gedebage Selatan No. 117 Bandung, Selasa (14/8), merupakan gabungan kicaumania dari berbagai elemen mulai dari EO (Ronggolawe, BnR, RI, Oriq, Elite, Radja, Independent), peternak burung, pedagang, pengrajin, penghobi sampai penggiat konservasi, datang untuk mencurahkan kegelisahannya perihal: Peraturan Menteri LHK No. 20 P.20/MENLHK/SETJEN/Kum.1/6/2018 Tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Dibawah bendera Forum Kicau Mania Indonesia (FKMI), yang diketuai H. Ebod, lebih dari 500 massa melakukan aksi damai, berorasi dan bertemu langsung dengan pimpinan BKSDA Kota Bandung, untuk mengeluarkan aspirasinya atas peraturan Menteri tersebut.

Ade Sulistio

H. Ebod Menyampaikan Orasi

Dalam orasinya, H. Ebod mewakili FKMI hanya menuntut pencabutan Permen LHK No. 20/2018 untuk dikaji ulang kembali, khususnya jenis burung Murai Batu, Jalak Suren dan Anis Kembang. Beberapa orator yang mewakili komunitasnya, Lan’z ketua Asosiasi Penangkar Burung Nusantara (APBN) mempersoalkan burung yang sudah bisa ditangkarkan, tidak boleh lagi masuk kategori dilindungi. Karena akan menambah ketatnya prosedural perizinan dan birokrasinya. Ade Sulistio mewakili kicaumania mengatakan, “Keutuhan habitatnya yang harus dijaga, juga yang utama memulihkan kawasan konservasi yang sekarang sudah rusak dan menyusut.” Irfan dari BnR juga mengatakan, “Ekonomi kerakyatan peternak burung harusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, bukannya meresahkan peternak. Karena dampak jangka pendek Permen ini, sudah merebak pada arus bawah.” Maskur, salah satu peternak asal Cirebon yang hadir berujar, “Wabah Permen sudah meluas dan meresahkan kami. Sebagai peternak kami hanya ingin cabut Permen tersebut. Kami tidak ingin apa-apa. Kami hanya ingin tenang dalam beternak!”

Komunitas Murai Batu Menolak Permen

Dalam temu jawab, Rifky mewakili BKSDA mengatakan bahwa:

“BKSDA Bandung hanya sebagai pelaksana bukan pengambil kebijakan. Tetapi BKSDA berjanji akan menyampaikan aspirasi ini untuk disampaikan kepada pihak kementerian.”

Pihak BKSDA juga mengatakan akan menjamin tidak adanya razia ke peternak dan penghobi untuk burung-burung yang lama sudah dipelihara. Burung yang sudah diternak akan di putihkan alias dianggap menjadi F2 (sebagai syarat burung yang boleh diternak). Diharapkan kerjasamanya untuk pendataan peternak sebagai dasar revisi untuk pencabutan Permen No.20/2018.

Rifki BKSDA dan H. Ebod

Lan’z Orasi Waklli Peternak

Aswin sebagai ahli hukum juga kicaumania, dalam aksi damai tersebut, ketika diwawancarai mengatakan, “Permen ini tidak bersifat mengikat. Jadi putusan Permen tersebut semestinya dilakukan pemerintah dalam bentuk revisi aturan. Jika nanti dibuat aturan baru, itu yang mengikat dan bisa digunakan sebagai dasar. Karena Permen statusnya bukan produk hukum, jadi pemberlakuannya dapat dipertimbangkan lagi.”

BnR dan Ronggolawe Tolak Permen

Wani Piro Tolak Permen

Battozai Tolak Permen

Ketika BKSDA meminta pendataan untuk peternak. Seharusnya peternak kepada BKSDA meminta dokumentasi riset LIPI, yang menjadi acuan terbitnya jenis burung Murai Batu,Jalak Suren dan Anis Kembang, masuk daftar merah burung yang dilindungi (redlist). Tetapi yang utama, kejelasan akan kedudukan hak dan peran peternak sebagai kepanjangan konservasi patut diangkat dalam pertemuan selanjutnya. Juga wajib membahas ketentuan perizinan yang tumpang-tindih bernuansa bisnis. Maka sebuah paradoks muncul: ketika burung jadi mahluk spesial, mereka juga jadi proyek.(Ricky)