Sepintas rupanya seperti bagian dari selembar daun kering yang bertengger di pucuk pohon kering saat datangnya musim gugur. Namun, jika diperhatikan lagi dengan detail, lembaran daun itu adalah seekor tokek yang memiliki penyamaran yang sempurna. Tidak heran karena keunikannya tersebut, reptil yang satu ini jadi salah satu buruan yang langka untuk para pecinta reptil.

Satanic Leaf Tailed Gecko mirip dengan Daun

Satanic Leaf Tailed Gecko mirip dengan Daun (Foto: Nick Garbutt / naturepl.com)

Tokek yang asli berasal dari kepulauan Madagaskar ini, pertamakali dijelaskan oleh George Albert pada tahun 1988, dengan nama Uroplatus phantasticus. Dan jenis ini adalah yang paling terkecil dari jenis tokek lainnya dengan ukuran yang bekisar antara 8-30 cm, seperti kerabatanya Uroplatus Ebenaui yang juga bertubuh mungil namun memiliki ekor yang lebih pendek.

Satanic Leaf Tailed Gecko atau Tokek Setan Berekor Daun saat berada di tanah dalam hutan (Foto: © Nick Garbutt / naturepl.com)

Satanic Leaf Tailed Gecko atau Tokek Setan Berekor Daun saat berada di tanah dalam hutan (Foto: © Nick Garbutt / naturepl.com)

Tokek ini diberi julukan ‘Tokek Setan Berekor Daun’. Dengan ekornya di bagian ujung yang tampak berbentuk daun. Sementara di bagian kepalanya kelihatan seperti (tanduk) setan dan memiliki kedua mata bewarna merah. Warna tubuh tokek setan berekor daun ini bisa cokelat atau abu-abu dan ia paling mahir dalam mengkamuflasekan dirinya sesuai dengan lingkungan dengan warna kuning, hijau, oranye atau merah. Yang membuat tokek ini menjadi paling unik di Madagaskar, sebab hewan ini tidur di cabang-cabang pohon yang tipis dengan kepala mengarah ke bawah.

Tokek ini juga bisa menyamarkan dirinya pada pohon (Foto: © Ingo Arndt / naturepl.com)

Tokek ini juga bisa menyamarkan dirinya pada pohon (Foto: © Ingo Arndt / naturepl.com)

Dengan matanya yang besar, tokek ini bergerak di malam hari untuk berburu serangga di tengah-tengah hutan hujan. Dengan perekat di bawah jari-jari mereka dan cakar yang sedikit melengkung, serta kuat memungkinkan mereka untuk bergerak dengan cekatan melewati ranting pohon-pohon.

Seperti kebanyakan reptil pada umumnya, tokek ini berkembangbiak dengan cara bertelur. Reproduksi dimulai pada awal musim hujan. Dan mereka terbiasa meletakkantelurnya di atas tanah di bawah serasah daun, atau daun-daun kering dari tanaman, dan telur itu akan menetas setelah 60 sampai 70 hari.

Rusaknya habitat mereka karena perusakan hutan dan perburuan untuk perdagangan illegal untuk hewan peliharaan, mengancam keberadaan tokek unik ini. Studi menunjukan bahwa tokek ini hanya biasa hidup di lingkungan yang sangat spesifik dan tidak toleran terhadap degradasi habitat alaminya. Tentunya dengan rusaknya habitat mereka membuat keadaan mereka sangat terancam.(Sal-Berbagai Sumber)